Deskripsi
Nilai-nilai Banyumas adalah tradisi kuno, dan budaya perlahan-lahan dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Hal ini menciptakan keengganan untuk menerapkan, melanjutkan, dan mempercayainya. Nilai-nilai tersebut hampir mirip dengan nilai-nilai Jawa, namun memiliki beberapa perbedaan. Nilai-nilai tersebut harus dipertahankan untuk mengurangi sampah makanan di era sekarang. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa total sampah makanan mencapai 74,11% di Banyumas, dan konsumen muda mendominasi proporsi demografi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara nilai-nilai Banyumas, home edutainment, rutinitas rumah tangga, dan gaya hidup anti-sampah makanan dari konsumen muda. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan pendekatan statistik menggunakan SEM-PLS (Structural Equation Modeling - Partial Least Square) dengan jumlah responden sebanyak 409 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Banyumas, home edutainment, dan rutinitas rumah tangga secara signifikan mempengaruhi gaya hidup anti-mubazir makanan. Untuk mempertahankan gaya hidup anti-mubazir pada konsumen muda di Banyumas, perlu adanya edukasi dari keluarga dengan melakukan literasi pangan. Konsumen muda harus dibimbing untuk menjaga makanan mereka dan menghindari pemborosan dimanapun mereka berada. Selain itu, tanggung jawab setiap konsumen muda harus tetap dijaga dan melihat kembali aspek budaya Banyumas sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kearifan lokal.