Deskripsi
Lukisan ini terinspirasi dari pengalaman mimpi yang muncul saat saya berada dalam keadaan demam tinggisebuah kondisi antara sadar dan tidak, di mana batas antara kenyataan dan imajinasi menjadi kabur. Dalam dunia yang saya lihat kala itu, berbagai bentuk kehidupan muncul dengan cara yang tidak biasa, bahkan ganjil, namun tetap memikat dalam keindahannya. Seekor burung kenari berkepala dadu bertengger di pundak. Seekor ular melingkar anggun di lengan. Seekor flamingo bermahkota dan berkacamata meliuk dengan indah. Sementara itu, ikan dengan sayap kupu-kupu berenang bebas di udara. Di antara makhluk-makhluk aneh itu, terdapat sebuah gelas yang anehnya menumbuhkan tangga dari dalamnya, seakan mengundang siapa saja untuk naik menuju tempat yang tak pernah dijanjikan. Ada pula sebuah tombak yang tertancap diam di punggung, tidak menyakitkan, tapi tetap membawa beban dari sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Setengah bagian wajah perempuanyang merupakan perwujudan saya sendiriperlahan meleleh seperti lilin terkena matahari. Satu mata mengeluarkan air mata berwarna darah. Menggambarkan betapa tidak nyaman dan sakitnya ketika suhu badan sedang tinggi. Warna-warna dalam lukisan ini sangat cerah, bahkan ceriabiru langit, kuning, hijau, dan sebagainyasemuanya berpadu harmonis, menciptakan suasana visual yang memanjakan mata. Namun justru dalam keindahan itulah saya merasa tidak tenang. Ada paradoks yang kuat segala sesuatu tampak indah dan memesona, tapi menyimpan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Perasaan seperti terperangkap dalam mimpi yang terlalu nyata, di mana saya hanya ingin segera terbangun dan kembali ke dunia yang lebih dapat dimengerti. Lukisan ini adalah gambaran dari ketidakpastian batin, keindahan yang mengganggu, dan bagaimana alam bawah sadar bisa menyusun realitas dalam bentuk yang tak terduga. Sebuah surealisme yang personal, namun bisa menyentuh siapa saja yang pernah merasa asing di dalam pikirannya sendiri.